Mengabdi dan Berjuang

Dua kata ini tampak sangat luhur bagi seseorang yang meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan tentu dana untuk suatu hal yang tidak mendatangkan keuntungan financial. Orang biasanya menyebut dengan non-profit. Meskipun non-profit, tatapi benefit yang didapatkan sangat bisa dirasakan. Persahabatan, tambahnya saudara, jejaring perkenalan, akses teman, dan seabrek keuntungan non material yang didapatkan. Itulah berorganisasi.

Semenjak masih di bangku sekolah, berorganisasi tampaknya tidak lepas dari kehidupan saya. Dari organisasi terkecil, kamar pondok, kelas, hingga yang lebih luas. saat lulus kuliah s1, lingkup organisasi menjadi lebih luas. Jika tadinya hanya bertemu dengan teman-teman sekolah atau pesantren, maka skup cakupan pertemanan menjadi bertambah.

PCNU Kab. Magelang Menyikapi isu Virus Corona

Entah akan memulai dari mana saya kalau mau bercerita tentang berorganisasi. Di pesantren saya pernah menjadi ketua kamar dan ketua pengurus. Keluar pesantren saya diajak berkiprah di organisasi para guru ngaji. Seorang kyai yang sekarang sudah tiada mengajak saya berkenalan dengan para pejuang TPQ. Itu terjadi pada tahun 2005. Setahun kemudian saya diajak menjadi sekretaris PAC GP Ansor Anak Cabang Salam.

Tahun 2013, singkat cerita, saya ditarik menjadi sekretaris MWCNU Salam mendampingi Pak H Sungkono sebagai Ketua Tanfidziyah. Hingga tahun 2018 saya diamanati menjadi wakil ketua MWCNU Salam. Tahun 2019 sekitar bulan Maret “didawuhi” oleh Gus Din mendampingi beliau menjadi sekretaris cabang. Hingga tulisan ini dibuat, sudah satu tahun saya nderekke beliau. Semoga sehat dan selalu panjang umur.

Tulisan ini hanya fragmen dari sekian banyak cerita berorganisasi. Saya melanjutkan cerita-cerita lainnya. Semoga diberi kesehatan dan kekuatan untuk bisa merekam perjalanan ini.

 

Banser Di Tengah Pusaran Kekuasaan

Oleh: SGN. Chaqoqo, MA

Bagi para aktivis politik, mengkritik penguasa itu adalah kewajiban. Kewajiban ini mendapatkan legitimasi dari nasehat Imam Ghazali agar para agamawan jangan suka mendekat kepada kekuasaan, sebaliknya para penguasalah yang harusnya mendekat kepada agamawan. Dalam konteks seperti ini kemudian kritik kepada penguasa adalah sah-sah saja dan bahkan dianjurkan agar jalannya kekuasaan bisa lempang, lurus, dan tidak terjerumus dalam kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan sangat mudah disalahgunakan untuk menindas. Kekuasaan bersifat korup, oleh karena itu para penguasa harus sering “dijewer” dan diingatkan. Dalam situasi seperti inilah maka peran oposisi sangat penting agar ada keseimbangan dalam penyelenggaraan  Negara.
Baca lebih lanjut

Penceramah: Scientific atau ideologic

Oleh: SGN. Chaqoqo

Pagi ini saya membuat status di laman FB saya tentang beberapa penceramah yang sukses merambah audiens yang begitu luas, baik secara langsung (off air) maupun via udara (on air). Pada zaman old, istilah on air akrab dengan tampil di televise ataupun radio, sementara zaman now isitlah on air bisa merambah lebih luas ke media online, dari youtube hingga mengalir viral di grup whatsapp dsb. Orang-orang itu adalah Zaenudin MZ, Jefry al Bukhori, Aa Gym, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, dan yang sedang naik daun adalah Abdul Shomad dari Riau.

Baca lebih lanjut

Spiritualitas dan Persoalan Keummatan NU

Oleh: SGN. Chaqoqo

Organisasi Nahdlatul ‘Ulama (NU) adalah organisasi yang tersebar dalam rentang kelompok social yang sangat panjang, dari yang secara pendidikan formal tidak lulus SD hingga yang bergelar guru besar (professor). Dari pedagang kecil hingga juragan besar, dan dari buruh hingga pegawai kantoran, serta dari rakyat kecil hingga pemerintah. Lagi, dari yang baca Al Qur’an-nya masih grothal-grathul, tersendat-sendat hingga yang bisa kitab gundul beserta maknanya. Juga dari yang kuliah di dalam negeri hingga yang suka menjadi pembicara seminar tingkat internasional. Hal ini menunjukkan heterogenitas warga NU di Indonesia.

Baca lebih lanjut

Isu Kebangkitan PKI

Beberapa hari ini penulis terlibat semacam debat kusir dengan para pendukung salah satu calon presiden (Capres) yang kalah dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2014 yang lalu di sebuah grup Whatsapp (GWA). Debat itu berkisar pada isu-isu yang dikembangkan oleh pendukung capres tersebut yang tampaknya mulai move on dari mendukung Prabowo Subiyanto (PS) menjadi pendukung Gatot Nurmantyo (GN) menantang incumbent Joko Widodo (Jokowi). Di antara isu tersebut adalah tentang bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Zombi sejarah yang coba dipanggil kembali untuk menakut-nakuti orang banyak.

PKI adalah partai yang sudah dilarang berdiri ataupun bangkit lagi di Indonesia sebagai buah dari apa yang sering disebut sebagai pengkhianatan mereka terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam sejarah mainstream Indonesia, PKI sudah dua kali berusaha melakukan pemberontakan atau kudeta terhadap pemerintahan yang sah, yaitu pada tahun 1948 dan 1965, disamping pemberontakan yang lain oleh DI/ TII, PRRI, Permesta, Republik Maluku Selatan (RMS), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), serta Organisasi Papua Merdeka (OPM). Terlepas dari kontroversi konflik internal di dalam tubuh kesatuan militer, tetapi sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa PKI adalah pengkhianat Negara. Pada tahun 1965, NU termasuk yang bersuara lantang agar PKI dibubarkan sebagai salah satu tuntutan dalam tiga tuntutan rakyat atau dikenal dengan Tritura.
Baca lebih lanjut

Prediksi Hoax Pilpres 2019

sumber gambar http://mtnsh.com/16045

Tahun ‘80-an akhir saya sudah membaca sebuah selebaran yang berisi, menurut orang banyak waktu itu, sebagai peta rencana “kristenisasi”. Seketika waktu itu timbul semangat “Keberislaman” yang tinggi dan mengaitkan semua yang ada dengan rencana tersebut. Tahun sembilanpuluhan akhir beli buku terbitan penerbit Islam, lupa namanya, yang mengupas tentang Zionisme. Lantas semua kejadian juga saya kaitkan dengan peta rencana tersebut.  Kesimpulan sementara saya, setiap membaca peta rencana sebuah teori konspirasi, maka semua kejadian akan nampak cocok dengan teori tersebut.

Baca lebih lanjut

Lingua Franca Politik

IMG_20170827_163809[1]Dalam bahasa kekuasaan dunia, ukuran kedamaian, kemakmuran, dan demokrasi bisa berbeda-beda. Jika prinsip Negara yang berhasil adalah kesejahteraan dan keadilan, maka bentuk Negara apapun, selama tujuan tersebut tercapai, akan fleksibel. Bisa saja Negara kerajaan tidak cocok antara satu dengan yang lainnya. Negara republic demokrasi juga demikian halnya; apakah dengan republic dan demokrasi keadilan dan kesejahteraan bisa tercapai. Prinsip ini tentu saja juga mengenai Negara yang berdasar agama yang dalam sejarahnya juga tidak lepas dari adanya penindasan yang serba tidak adil.

Di Negara kampium demokrasi terbesar di dunia, sebut saja begitu, istilah terorisme bisa saja mengarah kepada para pembangkang kebijakan geopolitik yang ingin diraih. Menundukkan Negara-negara kecil agar mau mengikuti agenda-agenda kapitalisme dengan ancaman senjata bagi yang melawan adalah aksi yang sah-sah saja bagi mereka. Perang gurun di Irak pada 2003 bisa menjadi contoh akan hal itu. Negara republic yang dua decade sebelumnya disokong untuk melawan Iran pasca Revolusi Iran, dengan sokongan senjata yang belakangan disebut sebagai senjata pemusnah masal –Mass Destruction Weapon- adalah contoh penerapan standard bagi pelaksanaan demokrasi yang mendua. Demokrasi baik jika mengikuti agenda-agenda Negara Barat, dan buruk jika tidak mengikutinya. Tentu stigma ini masih perlu diuji di dalam era informasi saat ini.
Baca lebih lanjut